Industri Sepeda Nasional Melesat, Perputaran Ekonomi Tembus Rp10 Triliun per Tahun

oleh -68 views
banner 468x60

Jakarta – Perkembangan olahraga sepeda di Indonesia semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Sepeda kini tidak lagi sekadar dimanfaatkan sebagai alat transportasi, melainkan telah beralih fungsi menjadi bagian dari gaya hidup, media rekreasi, olahraga prestasi, hingga penopang sport tourism. Sejak masa pandemi, aktivitas bersepeda meningkat tajam dan membentuk basis pasar yang relatif bertahan hingga saat ini, sekaligus menghadirkan peluang ekonomi yang kian menjanjikan di berbagai wilayah.

Pengamat ekonomi Andika Isma menilai, dari sisi nilai ekonomi, industri olahraga sepeda nasional menyimpan potensi besar dengan perputaran dana yang diperkirakan mencapai Rp7–10 triliun per tahun. Nilai tersebut bersumber dari penjualan sepeda, suku cadang, apparel, aksesoris, layanan servis, hingga penyelenggaraan berbagai event olahraga sepeda di dalam negeri.

banner 336x280

“Angka tersebut belum memasukkan efek turunan (multiplier effect) seperti sektor pariwisata, UMKM kuliner, penginapan, transportasi, serta konten digital dan sponsorship yang tumbuh seiring berkembangnya komunitas dan kompetisi sepeda di berbagai daerah,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (18/12/2025).

Besarnya perputaran ekonomi itu tercermin dari aktivitas perdagangan sepeda dan perlengkapannya yang terus meningkat. Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar konsumsi, tetapi juga mulai berkembang sebagai basis produksi, khususnya untuk sepeda kelas menengah, komponen, dan apparel. Sejumlah kawasan industri di Jawa Barat dan Jawa Tengah bahkan telah mengekspor sepeda dan komponennya ke pasar Asia, Eropa, hingga Amerika, menandakan peluang Indonesia masuk dalam rantai pasok global industri sepeda.

Dari sisi minat, Andika memperkirakan jumlah pesepeda aktif di Indonesia mencapai sekitar 20–25 juta orang. Angka tersebut mencakup pesepeda rekreasional, komunitas hobi, komuter perkotaan, hingga atlet prestasi yang rutin mengikuti berbagai kejuaraan.

“Tingginya jumlah tersebut menunjukkan basis peminat sepeda yang sangat luas, mulai dari pesepeda santai hingga atlet kompetitif,” ujar dosen Universitas Negeri Makassar tersebut.

Minat masyarakat yang tinggi didorong oleh besarnya populasi usia produktif, meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, serta tumbuhnya komunitas sepeda hampir di seluruh kota dan kabupaten. Segmentasi pasar pun semakin beragam, mulai dari sepeda lipat, road bike, mountain bike, BMX, hingga sepeda listrik yang kini kian diminati.

Lebih lanjut, Andika menilai potensi industri sepeda akan semakin kuat apabila ditopang oleh event-event berskala nasional yang melibatkan masyarakat luas. Sport tourism berbasis sepeda dinilai mampu menjadi pemicu perputaran ekonomi, terutama di daerah yang memiliki kontur alam dan destinasi wisata unggulan.

“Wilayah dengan karakter alam yang mendukung, seperti Bali, Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, memiliki peluang besar menjadikan sepeda sebagai ikon pariwisata olahraga,” jelasnya.

Industri sepeda juga membuka ruang yang luas bagi UMKM dan sektor ekonomi kreatif. Produk apparel lokal, helm, tas sepeda, hingga konten digital serta peran influencer menjadi bagian dari ekosistem industri yang saling terhubung dan terus bertumbuh.

“Atlet maupun figur publik dapat berperan sebagai brand ambassador untuk memperkuat nilai komersial sekaligus mendorong regenerasi atlet dan minat masyarakat terhadap olahraga sepeda,” tambahnya.

Potensi tersebut diyakini akan semakin terasa apabila program-program massal kembali digulirkan pemerintah. Sebelumnya, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memiliki program unggulan Gowes Nusantara atau Sepeda Nusantara yang sejak 2017 rutin digelar di berbagai kabupaten dan kota. Program ini bertujuan mengajak masyarakat hidup sehat, bugar, serta mempererat persaudaraan melalui kegiatan bersepeda massal dengan slogan “Ayo Olahraga, Bergerak Dimana Saja, Kapan Saja”.

“Jika kegiatan digelar di 100 kota dengan 1.000 peserta di setiap titik, maka ada sekitar 100 ribu orang yang ikut bersepeda. Dari jumlah itu, diperkirakan 30 persen membeli sepeda baru, sementara sisanya melakukan servis sepeda lama. Bisa dibayangkan, jika 30 ribu orang membeli sepeda baru seharga Rp500 ribu,” ujarnya.

“Perhitungan tersebut baru dari sisi peserta. Belum termasuk dampak bagi UMKM, hotel, dan rumah makan di sekitar lokasi kegiatan, yang nilainya tentu jauh lebih besar,” pungkasnya.

Kegiatan Gowes Nusantara biasanya dikemas dengan tema persatuan, pembagian doorprize, serta kolaborasi bersama pemerintah daerah, termasuk kampanye “Bike to School” dan “Gerakan Kembali ke Meja Makan”. Jika program ini kembali digelar secara konsisten, perputaran ekonomi sektor olahraga sepeda diyakini akan kembali bergerak, menghidupkan UMKM lokal, pariwisata daerah, sekaligus memperkuat ekosistem industri olahraga sepeda nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.