Golf Melesat Menjadi Sektor Olahraga dengan Dampak Ekonomi Terbesar

oleh -66 views
banner 468x60

Batam – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus mendorong tumbuhnya industri olahraga sebagai sektor ekonomi strategis yang berkelanjutan. Dorongan ini semakin terlihat pada perkembangan pesat industri golf nasional, yang kini menjadi salah satu cabang olahraga dengan kontribusi ekonomi terbesar di Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan Akademisi Universitas Negeri Jakarta, Yafi Velyan Mahyudi, dalam agenda Batam Pro-Am Golf Tournament 2025 di Palm Spring Golf, Nongsa, Sabtu (22/11/2025).

Ia menegaskan bahwa momentum pertumbuhan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kemenpora RI sebagai inisiator penguatan ekosistem industri olahraga yang lebih profesional dan produktif.

banner 336x280

Yafi menjelaskan bahwa golf telah lama beroperasi sebagai industri dengan struktur ekonomi yang kompleks. Mulai dari pembangunan lapangan yang memerlukan investasi besar hingga karakter pemain yang umumnya berasal dari kelompok ekonomi menengah atas, semuanya menciptakan rantai ekonomi yang berputar setiap hari. Menurutnya, golf bukan hanya olahraga rekreasional, tetapi juga ruang strategis bagi interaksi bisnis bernilai tinggi.

“Lapangan golf menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan. Perawatan rumput, caddy, operator golf cart, layanan kuliner, hingga transportasi, semua terlibat dalam siklus ekonomi harian,” ujarnya.

Ia menyoroti Batam sebagai contoh daerah dengan pertumbuhan industri golf yang paling dinamis. Meski bukan wilayah metropolitan, Batam memiliki sedikitnya enam lapangan golf dengan tingkat okupansi tinggi. Aktivitas ekonomi terlihat jelas dari ramainya area parkir, konsumsi di restoran lapangan, hingga pemanfaatan berbagai layanan pendukung.

“Dari padatnya area parkir saja sudah terlihat skala perputaran uang yang terjadi. Para pemain datang berjam-jam, berbelanja, menyewa perlengkapan, dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia,” katanya.

Selain itu, turnamen golf kerap menawarkan hadiah besar termasuk mobil mewah untuk pencetak hole-in-one yang membuat sponsor semakin tertarik. Hal ini menjadikan golf sebagai magnet kuat bagi pariwisata. Ditambah dengan posisi Batam yang dekat dengan Singapura dan Malaysia serta biaya kompetisi yang relatif kompetitif, wisatawan dari Eropa hingga Timur Tengah banyak memilih Batam sebagai destinasi wisata golf.

“Begitu jadwal turnamen diumumkan, golfer asing langsung bergerak. Mereka menginap, makan, menyewa transportasi, dan menjelajahi berbagai lapangan. Inilah yang membuat industri wisata golf terus hidup,” jelas Yafi.

Mobilitas pemain dari dalam dan luar negeri tersebut memberikan dampak langsung pada tingkat hunian hotel, restoran, transportasi, hingga pusat perbelanjaan. Dalam satu turnamen nasional dengan 200–300 peserta, pengeluaran seorang golfer bisa mencapai Rp7–10 juta, mencakup biaya perjalanan, akomodasi berbintang, green fee, hingga konsumsi.

“Jika 200 peserta menghabiskan 10 juta per orang, nilainya sudah mencapai 2 miliar rupiah. Belum termasuk pendamping, tim teknis, sponsor, dan nilai hadiah,” tegasnya.

Secara nasional, Yafi meyakini bahwa industri golf mampu menghasilkan perputaran ekonomi bernilai triliunan rupiah setiap tahun. Ia membandingkan operasional golf yang berlangsung setiap hari dengan kompetisi sepak bola yang menghasilkan lebih dari Rp10,4 triliun per tahun.

“Jika sepak bola yang berlangsung dua kali seminggu mampu mencapai angka sebesar itu, golf yang beroperasi setiap hari sangat mungkin berada di level triliunan,” paparnya.

Meski kerap dianggap sebagai olahraga kalangan atas, Yafi menegaskan bahwa manfaat ekonomi golf justru paling banyak dirasakan masyarakat menengah ke bawah mulai dari pekerja lapangan, caddy, petugas kebersihan, hingga pelaku UMKM di sekitar lapangan.

“Golf bukan beban bagi masyarakat kecil. Justru menjadi sumber penghidupan. Ketika lapangan ramai, pendapatan pekerja dan pelaku usaha ikut meningkat,” ujarnya.

Pertumbuhan wisata golf juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah melalui pajak hotel, restoran, dan transportasi.

Dengan indikator ekonomi yang kuat, Yafi menyimpulkan bahwa golf merupakan sektor strategis yang perlu terus didorong. Menurutnya, langkah Kemenpora RI sebagai inisiator pengembangan industri olahraga menjadi pondasi penting untuk memperkuat keberlanjutan industri golf nasional.

“Golf bukan sekadar olahraga, tetapi industri yang memberi dampak luas bagi pariwisata, UMKM, tenaga kerja, hingga pendapatan daerah. Tidak adanya lapangan yang tutup menunjukkan bahwa industri golf berada dalam kondisi sehat,” tutupnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.